Vaksin Virus Ebola Siap Tahun Depan

Vaksin Virus Ebola Siap Tahun Depan – Mitra Masasha, serangkaian uji klinis terhadap vaksin untuk virus Ebola, sedang dilakukan. Vaksin ini mungkin baru akan siap untuk digunakan secara luas pada awal tahun depan. Hal ini ditegaskan perwakilan Badan Kesehatan Dunia (WHO) setelah melakukan pertemuan marathon beberapa hari ini. 
“Saya pikir (ketersediaan vaksin pada 2014) itu realistis,” kata Marie-Paule Kieny, asisten direktur jenderal badan kesehatan PBB itu.
Untuk saat ini, tidak ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengatasi virus Ebola. Tetapi Kieny menyatakan optimistis vaksin ini akan tersedia pada 2015. Sebelumnya, Jean-Marie Okwo Bele, pimpinan divisi vaksin di WHO, mengatakan perusahaan farmasi raksasa asal Inggris, GlaxoSmithKline, tampaknya akan memulai uji klinis terhadap vaksin tersebut bulan depan. Dia juga mengutarakan optimismenya tentang penyediaan vaksin secara komersial setelah uji klinis itu.
“Karena ini adalah keadaan darurat, kita bisa meletakkan prosedur darurat pada tempatnya, sehingga kita bisa menyediakan vaksin pada 2015,” katanya kepada stasiun radio Prancis, RFI, Sabtu.
Kieny mengakui, bagaimana pun, vaksin itu tak akan diuji secara ketat sebagaimana vaksin dan obat-obatan lain. Targetnya, vaksin segera tersedia di pasar untuk membantu membendung epidemi, yang telah menewaskan hampir 1000 orang di Afrika Barat.
“Apakah diuji seperti vaksin lainnya? Tidak, sama sekali tidak. Itu tidak mungkin,” katanya, sehari setelah WHO menyatakan ebola sebagai epidemi darurat kesehatan internasional, Jumat. “Kami berharap, karena keadaan darurat, vaksin ini tidak akan diperlakukan sebagai sembarang obat atau vaksin lainnya.”
Beberapa vaksin dan obat ebola sedang diuji, antara lain, yang diproduksi oleh Mapp Biopharmaceutical di San Diego, Amerika Serikat. Dalam skala laboratorium, percobaan menunjukkan hasil yang menjanjikan terhadap monyet, dan mungkin efektif mengobati dua warga AS yang terjangkit virus itu di Afrika. Namun penggunaan obat eksperimental telah memicu perdebatan etis tentang apakah dibenarkan tim medis menggunakan obat-obatan yang belum teruji. Dan, jika dibenarkan, siapa yang harus diobati.(sumber)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *