Tips Menghadapi Suami atau Ayah yang Overprotektif

Tips Menghadapi Suami atau Ayah yang Overprotektif

Sifat suami yang terlalu melindungi justru bisa jadi pemicu keretakan perkawinan. Melindungi Memang Harus, tapi Jangan Berlebihan. Bagaimana jika suami kita adalah suami sekaligus ayah yang overprotektif ??? Berikut Tips Menghadapi Suami atau Ayah yang Overprotektif.

Sekali lagi, sifat suami yang terlalu melindungi justru bisa jadi pemicu keretakan perkawinan. Iya, Wanita mana yang hatinya tidak melambung saat suaminya memberikan perhatian ekstra, dan perlindungan. Ketika perhatian yang diberikan suami terlalu berlebihan, hati-hati, Anda justru akan merasa terkungkung dan kehilangan kebebasan.

Tanda-tanda Pria Overprotektif

Menurut Cherie Carter-Scott dalam bukunya ‘If Love is a Game, These are the Rules‘, anda bisa melihat tanda-tanda pria overprotektif seperti berikut :

  1. Bila Anda ingin ikut suatu kegiatan, suami harus selalu mendampingi Anda. Jika ia tidak bisa menemani Anda, dia bisa meminta Anda supaya mau mengorbankan teman, aktivitas dan keluarga, ketimbang Anda pergi tanpa dirinya
  2. Dia selalu curiga kalau Anda diajak pergi sama pria lain atau teman kumpul Anda. Dan selalu mengawasi kegiatan Anda serta maunya ‘menempel’ terus.
  3. Dia melarang Anda bekerja atau melakukan aktivitas yang berhubungan dengan orang banyak.
  4. Dia juga sering menuntut dan memaksa Anda menurutinya.
  5. Jurus terakhir yang sering bikin tertipu, dia bisa bersikap sangat manis setelah marah. Sering mengatakan nggak bisa hidup tanpa Anda dan takut kehilangan Anda.

Nah Jika tanda-tanda ini dimiliki suami, perlu Anda sadari, sikap overprotektif bisa berubah menjadi posesif. Anda tidak mau hal itu terjadi bukan ?

Tips Mengatasi Suami atau Ayah yang Overprotektif

Sejak dini Anda mengoreksi tuntutan suami. Jika terasa memberatkan, ungkapkan sejak awal, jangan ngomel di belakang. Namun, sebelumnya Anda pun perlu introspeksi diri dulu, apakah tuntutan suami itu cukup masuk di akal dan memiliki kebenaran. Cobalah kemukakan persoalan ini pada pasangan dengan cara halus. Beri pengertian padanya, bahwa meski suami memberikan kebebasan, Anda tidak akan merusak kepercayaan darinya. Dan, negosiasi untuk menjembatani perbedaan pandangan. Adapun negosiasi bisa dilakukan melalui tindakan. Misalnya, Anda yang biasanya jarang menghubunginya saat dia di kantor, tiba-tiba harus menjadi lebih sering mengirimkan SMS, misalnya yang berisi aktivitas Anda.  Lakukan berulang kali agar ia menangkap isyarat pelan-pelan dari Anda.

Overprotektif merupakan sifat alamiah

Sifat overprotektif merupakan sifat alamiah manusia yang sudah terbentuk sejak bayi, hingga usia 2-3 tahun. Seiring waktu, perkembangan kepribadian manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa akan terus bergerak dan berubah. Biasanya orang yang punya sifat protektif, di masa kanak-kanaknya selalu mau menjaga barang yang dimilikinya secara berlebihan.

“Dalam situasi hubungan keluarga antara kakak dan adik, mungkin sang adik selalu dimenangkan terhadap kakaknya atau sebaliknya. Hal tersebut dapat menjadi penyebab seseorang bersifat posesif dalam hubungannya kelak”, ungkap Viera Adella, pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.

Ditambahkan Viera, orang yang memiliki kepribadian posesif cenderung akan overprotektif. Karena sifat overprotektif merupakan sifat yang sudah ada dalam diri manusia. Overprotektif merupakan orang yang cenderung merasa apa yang menjadi haknya itu tidak boleh dimiliki oleh orang lain.

“Perkembangan kepribadian manusia dari kecil hingga dewasa bergeraknya dari ‘apa yang kumau’ ke ‘apa yang orang lain mau’ atau bisa dikatakan dari egois ke ‘mau berbagi'”, tutur Viera.

Biasanya yang menjadi penyebab seseorang overprotektif karena terdapat krisis dalam dirinya. Krisisnya adalah rasa takut kehilangan, yang biasanya muncul dari rasa cemas yang berlebihan. Tidak hanya itu, krisis juga bisa muncul pada saat seorang pria telah menjalin hubungan dengan seorang wanita, tetapi ternyata seorang wanita itu adalah orang yang sangat ia sukai dan diharapkan. Namun, ternyata wanita tersebut memiliki banyak pengagum sehingga muncul perilaku posesif.

Kenali pasangan. Menghadapi karakter pasangan yang overprotektif, komunikasi menjadi hal yang paling penting. Karena itu, sebelum memasuki fase pernikahan, hal ini bisa ditelusuri semasa pacaran. Pengenalan semasa pacaran ini sangat penting untuk mengetahui karakter pasangan. Mengajak ngobrol lebih dalam untuk mengetahui sifat overprotektif pasangan.

“Kalaulah dalam pacarannya dia tahu bahwa pasangannya merupakan orang yang overprotektif, dan tidak punya kemampuan untuk meng-handle-nya, pilihannya hanya dua, pertama belajar untuk mengenali, kedua dengan memilih mencari yang lain”, terang Viera.

Sementara itu, menurut Mira Damayanti Amir Psi, konselor dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia bahwa sifat overprotektif biasanya telah terdeteksi sejak pacaran.

“Pasangan yang overprotektif bisa diketahui ketika kita menjalani masa pacaran, kita bisa mengenal semua sifat pasangan”, ungkap wanita yang murah senyum ini.

Umumnya sikap ini berpotensi muncul diawal-awal masa pacaran sebagai bentuk usaha untuk memaknai rasa “saling memiliki”. Trauma atau pengalaman buruk di masa berpacaran sebelumnya dapat memicu muncul dan berkembangnya sikap overprotektif. Misalnya, pengalaman dikhianati atau ditinggal selingkuh pasangan. Karenanya, menjadi overprotektif dengan harapan pengalaman traumatis di masa lalu tidak berulang kembali.

Kesenjangan yang mencolok antarpasangan dapat pula memicu sikap overprotektif. Misalnya, seorang pria yang tampilannya biasasaja, namun memiliki pacar yang cantik jelita. Hal tersebut dapat memunculkan pemikiran-pemikiran yang negatif akan pasangannya, seperti banyak pria tampan yang pasti naksir pacarnya. Karenanya, semampu mungkin akan membatasi pacarnya sedemikian rupa sehingga tidak akan berpaling dari dirinya yang biasa saja.

Dalam kaitan dengan gender, kaum pria cenderung overprotektif, manakala merasa lebih dibanding pasangannya, sehingga merasa memiliki hak untuk mengatur pihak perempuan. Nah, jika sifat overprotektif ini tidak dibatasi saat masih pacaran, akan berlanjut saat menikah.

Beberapa tanda seorang suami yang overprotektif antara lain :

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*