Musik Dalam Perang, Adakah Peran Musik di sana ? (Bag I)

18 views

Musik dalam perang (tulisan bagian I) – Manusia dan segala aktivitasnya sulit untuk terlepas dari musik, dalam banyak aktivitas manusia  musik mempunyai banyak fungsi diantaranya sebagai pengiring kegiatan keagamaan, hiburan dalam pesta pernikahan, media ekspresi seniman, dan bahkan aba-aba atau perintah dalam perang. Bahkan William Shakespeare dalam Othello mengatakan tentang bagaimana bunyi suara drum sebagai penggerak semangat dalam perang. Hal Ini sudah dilakukan manusia sejak dahulu kala.

Sebuah studi tentang strategi perang Vietnam oleh Dave R. Palmer yang diberi judul Summon of the Trumpet! memberikan keterangan tentang musik sebagai tanda-tanda yang sudah dilakukan manusia sejak dulu hingga kini dalam dunia militer dan peperangan. Kemegahan dapat disimbolkan dalam permainan instrument-instrumen musik, contohnya drum dan perkusi

Drum merupakan instrumen penting yang dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan aba-aba dan informasi kepada para prajurit. Afrika, Timur Tengah, India dan China adalah negara-negara yang pertama-tama menggunakan alat musik perkusi di dalam militer, contohnya; Drum Junjung yang digunakan oleh orang-orang Afrika Barat. Sebuah catatan sejarah mengatakan bahwa penggunaan drum dalam peperangan tertua terjadi di China dalam peperangan antara Qi dan Lu pada 684 SM.

Alat musik perkusi dan tiup juga digunakan oleh tentara Yunani dan Romawi sebagai tanda adanya sebuah perayaan yang dilakukan dilapangan maupun di area tenda-tenda pertempuran. Para musisi dibayar untuk menampilkan musikalisasi puisi odes dan pae untuk mengenang kegagahan pahlawan-pahlawan besarnya dimasa lalu dan menyemangati pasukan dan warga negara. Tradisi ini terus berlanjut dan dipelihara hingga runtuhnya kekuasaan Roma di Barat yang kemudian dlanjutkan oleh kekaisaran Timur di Byzantium yang tentu saja mengalami modifikasi dan penyempurnaan.

musik dalam perang

Kebiasaan bermain musik dalam perang tersebut terus berlangsung lama dan dilakukan penambahan instrumen seperti bigpipes. Penggunaan instrumen bigpipes kemudian juga dilakukan oleh bangsa Skotlandia dalam ritual beladiri. Setelah Skotlandia ditaklukan oleh Inggris, permainan instrumen tersebut kemudian dilarang oleh Pangeran Edward pada tahun 1746.

Di awal abad pertengahan di Eropa, para ksatria perang mengadopsi musik Saracens untuk keperluan perang sebagai penyemangat dan penghuilang rasa takut, hal ini seperti diungkapkan oleh Bartholomaeus Aglicus pada abad ke-13. Instrumen musik Saracens yang diadopsi para ksatria perang diantaranya adalah anafil, sebuah trompet tanpa valumpal dan  berbentuk lurus; drum kecil, yang bisa digunakan juga dgn cara diikat; dan naker ; teko bundar kecil, biasanya berpasangan. Tentang penggunaan instrumen-instrumen tersebut dalam perang awalnya disebutkan di dalam Itinerarium Regis Aglorum Richardi I, yang terbit pada tahun 1648.

Kemudian musik tersebut menyebar dengan cepat seiring dengan direkrutnya tentara-tentara tersebut dalam tentara bayaran setelah kembali dari perang. Modifikasipun dilakukan dengan menyesuaikan situasi dimana para tentara-tentara tersebut berada. Merekapun menambahkan shawms (instrument rusuk ganda) dan juga bagpipes. Permainan instrument-instrumen tersebut juga dimainkan dalam kampanye, di atas kapal perang, dalam festival, dan juga pengadilan.

Niccolo Machiavelli dalam Libro Della Arte Della Querra mengemukakan bahwa perintah yang  dikeluarkan  oleh komandan harus dengan membunyikan sangkakala, hal ini dilakukan karena sangkakala dengan volume besar memiliki karakter suara yang menusuk sehingga bisa didengar oleh pasukan dalam suasana bising peperangan. Suara tersebut seharusnya memiliki timbre yang berbeda sehingga mudah untuk ditandai terutama yang berkaitan dengan infanteri, demikian saran dari Machiavelli. Instrumen-instrumen yang mudah untuk ditambahkan dalam demonstrasi tersebut adalah drum dan seruling Tradisi tersebut masih berlangsung hingga sekarang, penyerangan terhadap musuh tidak akan dimulai dan berlangsung tanpa suara-suara terompet dan ceret terlebih dahulu.

Pada tahun 1700- an perang telah menjadi bisnis yang bergaya, para prajurit harus mematuhi perintah atasan. Namun perintah musikal dengan suara sangkakala dan drum diantara bising suara tembakan tetap menjadi  andalan dan lebih penting daripada perintah lisan dari atasan yang seringkali tidak jelas dan sulit dimengerti.

Seiring berjalanya waktu, tentara-tentara nasional Eropa mengubah musik-musik perintah itu menjadi panggilan-panggilan. Panggilan-panggilan seperti Marche, Allarum, Appriaches, Assaulte, Retreate, dan Skirmish mampu mewakili dan menerjemahkan perintah-perintah oleh komandan menjadi gerakan-gerakan tertentu. Hal ini juga dianggap elemen penting dalam militer dan peperangan disamping kekuatan dan keterampilan menggunakan senjata. (sumber : historynet.com, historyofdrums.net/Afif_Zu)

Tags: #musik #perang #Sejarah