Agar Anak Tidak Takut ke Sekolah di hari pertama mereka

19 views

Sebentar lagi anak-anak kita akan masuk sekolah kembali setelah libur panjang. Demikian juga dengan anak yang sudah cukup usia, mereka akan masuk sekolah untuk pertama kali. Di saat menjelang anak masuk sekolah, biasanya orang tua akan menjadi yang paling heboh, sibuk survey sana-sini, membeli berbagai perlengkapan untuk sekolah, tapi kadang kita lupa mempersiapkan tokoh utamanya, yaitu anak kita. Bagaimana dengan dia ? Pernahkan kita memikirkan bahwa pengalaman ini ‘menakutkan bagi’ mereka ?

Kadang, kita lupa bahwa perubahan yang terjadi ketika pertama masuk sekolah cukup besar untuk anak. Maka tidak mengherankan, banyak anak-anak yang menangis di hari pertama, bahkan kadang masih terjadi di hari-hari berikutnya. Mereka merasa kaget, bahkan stres. Biasa berada di rumah hampir sepanjang hari, keluar rumah bersama orangtua atau orang yang sudah dikenalnya, tiba-tiba harus berada di tempat yang baru (baca=asing) selama beberapa jam, bersama orang-orang yang juga asing bagi dirinya. Ini adalah pengalaman yang cukup menegangkan bagi anak.

Bagaimana Agar Anak Tidak Takut ke Sekolah

Agar Anak Tidak Takut ke Sekolah

grb dari news.okezone.com

Sangat penting bagi kita untuk memperkenalkan konsep dan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah, jauh-jauh hari sebelum dia masuk sekolah untuk pertama kalinya. Lalu apa yang semestinya dipersiapkan orang tua ketika anak masuk sekolah untuk pertama kalinya ?

Hari pertama anak masuk sekolah, tentu memiliki kesan dan cerita unik tersendiri. Ada anak yang menangis tidak henti-henti, ada pula yang sangat antusias menyambutnya. Sebelum beberapa hari lagi Si Kecil, anak kita masuk sekolah, tentu ada berbagai persiapan yang mesti kita lakukan.

Berikut ada cerita beberapa Ibu yang dapat menjadi pelajaran bagi kita, para orang tua, yang sebentar lagi harus melepas anak untuk bersekolah untuk pertama kali.

“Kalau aku karena pertama kali mengantar anak sekolah dan tidak punya asisten rumah tangga, akhirnya saya menyiapkan segala sesuatunya. Dari bangun lebih pagi lalu membuat bekal, sarapan, baju dan lainnya padahal hari ini sekolahnya hanya satu jam karena perkenalan saja,” demikian kata Ibu Ratri menceritakan pengalamannya.

Begitu pula dengan Rina (26) yang ikut “deg-degan” lantaran anak baru pertama kali masuk TK dan menyiapkan segala sesuatu agar hari pertama Si Kecil berjalan lancar. “Persiapan saya kemarin saat Vincent masuk sekolah pastinya membuatkan dia sarapan. Saya juga bangun lebih pagi agar bisa membangunkannya di hari pertama sekolah,”.

Selain persiapan fisik, orangtua juga biasanya menyiapkan psikis Sang Anak agar tidak “kaget” memasuki dunia barunya.

“Di malam hari kami mengobrol dulu. Saya bilang kalau besok Abed akan sekolah, besok ia akan bertemu dengan teman-teman baru. Seru, saya jadi ingat masa-masa kecil saya waktu masuk TK,” cerita Ratri.

Selain kegembiraan, tak jarang kita menemui Si Kecil melakukan hal-hal tak terduga di hari pertamanya sekolah. Ibu Rina menceritakan hari pertama masuk sekolah anaknya, “Saat hari pertama play group, anak saya menangis menjerit-jerit. Dia harus ditemani oleh saya. Karena ia menangis terus, akhirnya saya dibolehkan masuk oleh gurunya. Tapi setelah selesai sekolah saya bilang sama dia untuk tidak menangis keesokan harinya. Senangnya, esok harinya ia nggak nangis lagi.”.

Ya, hari pertama anak masuk sekolah adalah momen berharga. Sebagian anak akan menjalani momen ini dengan lancar, tanpa halangan dan berjalan baik-baik saja. Namun, tidak semua anak merasakan hal serupa dengan anak-anak lainnya.

Momen hari pertama masuk ke sekolah, bisa menjadi momen yang mendebarkan. Tidak jarang, hal ini pun akan membuat si orangtua, khusunya ibu akan sedikit cemas dengan kondisi si anak. Hal ini mungkin wajar dirasakan oleh oragtua, pasalnya selama ini si anak pergi kemana-mana selalu ditemani oleh sang ibu dan sekarang si anak harus terpisah untuk sementara waktu karena harus belajar bersama dengan gurunya. Akan tetapi, kecemasan pada orangtua ini tidak bisa dibiarkan demikian saja. Diperlukan usaha untuk segera mencari solusi untuk mengatasi kecemasan sebelum anak masuk sekolah di hari pertamanya. Selain itu, perasaan cemas pada anakpun perlu diredakan agar anak merasa lebih siap untuk pergi ke sekolah.

Mungkin saat ini orang tua sedang membayangkan bagaimana si buah hati menghadapi hari pertama di sekolahnya. Kemarin-kemarin, si anak masih terlihat bermanja-manjaan dengan mama papanya dan masih merengek tak ingin jauh dari kita, ada yang makan masih disuapi, masih sering digendong dan lain sebagainya. Akan tetapi, sekarang, tidak terasa waktu berjalan seolah begitu cepat. Anak sudah masuk sekolah dan akan disibukkan dengan kegiatan belajarnya disekolah, yang mana hal ini tentunya akan menuntutnya untuk bisa mandiri saat mereka tak bersama dengan anda. Akan tetapi, kekhawatiran yang seringkali muncul dalam benak kita adalah akankah si kecil bisa mandiri di sekolahnya ? Ini tentu PR para orang tua, apa sajakah yang perlu dipersiapkan orang tua ?

Yang perlu dipersiapkan orang tua

Pada umumnya, orang tua mulai sibuk mengurus berbagai keperluan sekolah anak, kalau tahun ajaran yang baru tiba, terutama saat pertama kali anak akan bersekolah. Misalnya, mencari referensi sekolah yang bagus, membeli perlengkapan sekolah (alat tulis, baju, tas), dan lain-lain. Hal tersebut memang baik. Namun, setiap orangtua perlu merenungkan satu pertanyaan, yaitu apakah mental anak sudah dipersiapkan untuk masuk sekolah ?

Sebaiknya persiapan mental anak tidak diabaikan. Mempersiapkan mental anak sebelum masuk sekolah sangatlah penting. Hal ini akan menolong anak untuk merasa senang, nyaman, dan lebih percaya diri menyambut hari pertama mereka di sekolah. Selain itu, juga dapat melatih anak untuk tidak merasa cemas saat berpisah dari orangtua serta berani bertemu dengan orang-orang baru di lingkungan sekolah nanti.

Apabila mental anak kurang dipersiapkan, maka tidak jarang orangtua akan menghadapi respons anak yang cenderung selalu menangis, enggan masuk kelas, malu, takut dan rewel saat hendak ke sekolah. Anak menampilkan perilaku tersebut mungkin tidak hanya di hari pertama, tetapi bahkan sampai di hari-hari berikutnya. Sudah tentu orangtua akan merasa frustrasi menanggapi perilaku yang demikian.

Perilaku anak saat berada di lingkungan baru sangat beraneka ragam. Sekolah merupakan lingkungan yang baru bagi anak. Ada anak yang cukup mudah beradaptasi, ada juga yang membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa beradaptasi. Kalau sebelumnya anak tidak memiliki banyak pengalaman bergaul dengan teman sebayanya ataupun dengan orang baru, bisa jadi ia akan kesulitan beradaptasi di lingkungan sekolah nantinya. Oleh karena anak sangat dekat dengan orangtua, anak merasa cemas saat harus berpisah dari orangtua. Bertemu dengan orang baru atau yang dianggap asing oleh anak bisa jadi merupakan pengalaman yang cukup menegangkan bagi anak. Hal ini membuat anak sulit melebur dengan orang lain, misalnya guru dan teman-teman baru. Karena itu, anak merasa lebih nyaman berada di dekat orang-orang yang ia kenal, yaitu keluarganya (lingkungan rumah).

Memang benar, tak jarang saat anak pertama kali masuk sekolah, mereka akan meminta kita untuk terus menjaga dan menunggui mereka hingga mereka pulang sekolah nanti. Si ibu harus terus stand by di depan kelasnya atau duduk termenung di kantin sekolah demi untuk menunggu buah hatinya selesai sekolah. Hal ini tentu saja wajar, paada hari pertamanya masuk sekolah anak-anak masih merasa asing dengan lingkungan dan orang-orang baru yang mereka jumpai. Umumnya, si anak akan merasa belum memiliki keberanian sepenuh hati untuk jauh dari orangtunya.

Anak juga terkadang merasa cemas saat harus memulai mengenal anak-anak lainnya atau bahkan meminta tolong guru di sekolahnya saat ia memerlukan bantuan. Ada juga anak-anak yang merasa takut, bahkan pemalu. Hal ini akan berpengaruh pada kesiapannya menghadapi hari pertamanya masuk sekolah.

Selain itu, pada umumnya orangtua akan merasa tak tega jika harus membiarkan dan melepaskan anak-anaknya demikian saja. Mereka kadang berpikir takut jika sesuatu terjadi pada anaknya, takut ada anak nakal yang menyakitinya, takut si anak rewel atau kesepian dan lain sebagainya. Padahal, tidak semua sekolah, yakni preschool yang membolehkan orangtua untuk menunggui anaknya terus-terusan. Hal ini tentunya dimaksudkan agar si anak bisa terbiasa untuk mandiri saat jauh dari orangtuanya. Dengan demikianlah, orangtua perlu mempersiapkan anak-anaknya sebelum menghadapi hari pertamanya masuk sekolah. Agar kecemasan ibu bisa diatasi dan si anak akan merasa lebih siap dengan harinya besok.

Di halaman sekolah sudah nampak banyak  murid yang usianya bervariasi, dan postur tubuhnya berbeda-beda besarnya. Sebagian sudah memiliki kelompok sendiri dan ngobrol dengan teman-temannya tentang liburan sekolah mereka. Nampak juga anak-anak yang terlihat diam saja dan memperhatikan sekelilingnya. Mereka adalah murid-murid baru kelas 1 SD yang baru pertama kali datang ke sekolah tersebut. Sebagian dari mereka mengamati anak-anak yang lain dan terlihat ingin berkenalan. Sebagian lainnya tampak malu-malu dan menempel pada orangtuanya sebelum bel sekolah berbunyi. Yang lainnya sudah menangis meraung-raung dan ingin pulang bersama orangtuanya atau tidak mengijinkan orangtuanya meninggalkan mereka. Anak anda adalah salah satu dari mereka yang menangis. Orang tua yang lain memarahi anaknya dan meminta agar mereka belajar berani dan mandiri dalam menghadapi hari pertama tersebut. Yang lain mencoba menenangkan dan meminta anaknya agar berhenti menangis. Yang lain lagi berjanji untuk tidak meninggalkan anaknya khusus untuk hari pertama tersebut. Sikap mana yang anda pilih ?

Memasuki sekolah dasar pada umumnya menjadi satu ketakutan tersendiri bagi setiap anak. Ketakutan atau kecemasan ini merupakan reaksi terhadap perubahan yang mereka harus alami. Perubahan ini antara lain dalam bertambahnya jumlah dan kerumitan pelajaran yang harus mereka pahami. Banyaknya pelajaran ini mengharuskan anak menghabiskan berjam-jam, di mana sebelumnya ketika mereka masih di TK, hanya diisi dengan bermain dan beraktivitas. Selain itu mereka juga dituntut untuk belajar serius dan memperoleh nilai yang baik. Tentunya ada semacam ketidaksiapan bagi anak dalam menghadapi perubahan besar ini.

Pengalaman menyeramkan ini mungkin tidak disadari oleh orangtua karena menganggap bahwa masuk SD adalah proses biasa yang dialami setiap orang. Namun masa transisi ini sesungguhnya merupakan momen penting di mana peran orangtua dampaknya besar sekali. Anak perlu mengetahui dan merasa aman dan nyaman terhadap suasana baru, teman-teman baru, guru baru, dan pelajaran-pelajaran baru. Kata ‘baru’ di sini mungkin lebih jelas maknanya jika kita gunakan kata ‘asing’. Sesuatu yang asing, yang tidak kita pahami, yang tidak kita kenal, adalah sesuatu yang membuat kita merasa tidak nyaman dan takut. Bagi orang dewasa saja diperlukan keberanian dan masa penyesuaian untuk menghadapi hal yang baru, baik di tempat kerja, maupun dalam hidup. Sama seperti ketika kita memulai hari pertama kuliah, hari pertama kerja, hari pertama datang ke rumah pacar, atau pengalaman wawancara kerja pertama. Perasaan bingung, takut, cemas, grogi, semangat dan yang lainnya bercampur baur menjadi satu. Belum lagi perasaan takut, malu, dan rasa bersalah jika kita melakukan kesalahan dalam situasi tersebut.

Perasaan-perasaan demikianlah yang juga dirasakan anak, hanya ini berkali-kali lipat lebih besar, karena ia merasa begitu kecil di dunia ini. Anak membutuhkan rasa aman,  rasa dimengerti, dan dukungan agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi hal tersebut. Oleh karena itu sebagai orangtua kita tidak boleh mengecilkan pengalaman tersebut dengan mengatakan “gitu aja masa nggak berani” atau “ga usah takut. Nanti kamu kan dapat teman baru dan guru baru. Pasti menyenangkan deh”.

Sebaliknya, agar anak merasa dimengerti, kita harus mendukung perasaannya dengan kalimat seperti ini “kamu takut ya ? Tidak apa-apa kalo kamu merasa takut, karena ini adalah hal yang baru bagi kamu” atau “memang menyeramkan ya, menghadapi sesuatu yang kita tidak tahu/ belum pernah hadapi sebelumnya”. Ketika ini dilakukan, anak akan merasa bahwa hal dan ketakutan yang dialaminya adalah sesuatu yang wajar dan dibolehkan. Hal ini akan membuatnya tenang dan berani menghadapi ketakutannya. Sebaliknya, jika kita tidak membolehkannya merasa takut, kecemasan dan ketegangan anak akan jadi semakin tinggi karena merasa bersalah melakukan apa yang kita larang.

Efektif Menolong Anak Mengatasi Ketakutan di Sekolah

Hal paling efektif yang dapat dilakukan untuk menolong anak mengatasi ketakutannya adalah bahwa kita sebagai orangtua menjadi tempat yang aman baginya untuk menceritakan seluruh pengalaman dan ketakutannya. Dengan memiliki rasa aman untuk menceritakan segala sesuatu yang dirasakannya, anak akan melihat bahwa apapun yang ia akan hadapi dan rasakan, ia bisa dengan berani menghadapinya karena kita -orangtuanya- ada di belakangnya untuk mendukung dan menguatkannya. Dengan demikian, apapun yang dialaminya entah itu ketakutan, kegagalan, kekecewaan, kesedihan, dan yang lainnya, dapat dihadapinya dengan lebih percaya diri dan mandiri.

Bagamana mempersiapkan anak kita ke sekolah yang baru, utamanya anak yang masuk sekolah dasar ? Mari kita mundur sejenak.

Sebelum anak kita menjalani hari pertama di sekolah yang baru, kita dapat mempersiapkannya dengan mengajaknya mengunjungi sekolah tersebut. Dalam perjalanan, kita dapat menjelaskan tempat-tempat yang dilalui sehingga ia mengenali bagaimana cara mencapai ke sekolahnya. Setelah sampai di sekolah, kita dapat memperkenalkannya pada guru yang nantinya akan mengajarnya. Kita juga bisa mengenalkannya pada lingkungan sekolah dengan memberitahukan letak-letak ruangan di sekolah tersebut dan menunjukkan ruang kelasnya.

Orang tua juga sebaiknya membahas apa yang dirasakan anak tentang pengalaman baru yang akan dilaluinya tersebut. Dengan mengenali perasaannya sendiri, anak akan merasa lebih siap dengan apa yang akan dialaminya. Kita dapat menenangkan perasaannya dengan memberikan perhatian penuh dan mendengarkan apa yang ia ungkapkan.  Setelah kita memahami perasaan anak, kita bisa mengkonfirmasi perasaan-perasaan apa yang ia rasakan.

Selanjutnya, kita kemudian dapat memberikan penguatan (encouragement) bahwa semua yang dirasakannya adalah wajar. Lalu anda bisa memberanikan anak anda untuk menghadapinya dengan mengatakan bahwa anda menyayanginya dan mendukungnya. Anda bisa ungkapkan bahwa anda akan ada di sisinya ketika ia membutuhkan anda, sekalipun bukan dengan cara duduk di sebelahnya di dalam kelas. Anda bisa juga mengajaknya berdoa kepada Tuhan agar ia memiliki keberanian.

Kemampuan Anak beradaptasi dengan lingkungan baru

Seberapa cepatnya anak beradaptasi dengan lingkungan baru tergantung masing-masing anak. Jika anak kita termasuk cepat beradaptasi dan tidak mengalami masalah serius, bersyukurlah. Kalau anak kita mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi, bersyukurlah juga. Karena dengan terus berada di sisinya dan mendukungnya, kita akan mempunyai kesempatan untuk mengenal anak kita lebih jauh dan menjalin ikatan lebih erat dengannya. Kita juga memiliki kesempatan untuk mengajarkan anak anda untuk berdoa dan beriman lebih dalam kepada Tuhan yang mengasihinya dan memahami perasaannya.

Masa masuk sekolah pertama adalah bagian dari transisi kehidupan. Dalam masa transisi dari jenjang pendidikan sebelumnya ke jenjang pendidikan selainjutnya, anak perlu didampingi oleh orangtua/keluarganya. Mereka perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa transisi itu. Perubahan kondisi lingkungan fisik (sekolah baru, teman baru, pelajaran baru) yang akan berimbas pada konsekuensi psikologis dan sosial akan dijalani anak dengan baik bila ia tahu kita sebagai orang tua, ada untuknya.

Pentingnya Mendampingi Anak saat pertama sekolah

Ada baiknya orang tua sebisa mungkin mengantarkan anak ketika pertama kalinya ia bersekolah. Sebenarnya apa sih pentingnya mendampingi anak saat hari pertama masuk sekolah ? Ini arti pentingnya :

  1. Mendekatkan hubungan orangtua dan anak.

Mengantarkan anak untuk bersekolah di hari pertama bukan hanya sekedar mengantarkan ke gerbang sekolah, tapi juga memulai komunikasi dengan anak. Memberikan kenyamanan kepada anak, karena bisa saja anak merasa gugup dan takut. Sebagai orang tua bisa menceritakan pengalaman mereka saat masuk sekolah pertama kali untuk menghilangkan rasa gugup serta memberikan motivasi belajar kepada si Kecil.

  1. Memulai komunikasi yang baik antara orangtua dan sekolah.

Hari pertama sekolah merupakan saat yang tepat bagi orang tua untuk mulai menjalin komunikasi dengan sekolah, guru serta lingkungan, bahkan sesama orang tua murid. Karena anak akan banyak menghabiskan banyak waktu di sekolah, maka tak jarang kita sebagai orang tua ingin mengenal seluk beluk sekolah dengan lebih baik. Kenali siapa wali kelasnya, guru-guru yang akan mengajar, bagaimana sistem pengajarannya, dan lain sebagainya. Dengan mengenal lingkungan sekolah dengan baik, maka kita uga bisa memberikan dukungan kepada si Kecil.

  1. Meningkatkan kepercayaan diri anak.

Anak tentunya akan memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, terutama jika ia memasuki lingkungan sekolah yang benar-benar baru. Proses adaptasi membutuhkan rasa percaya diri, untuk berkenalan dengan teman-temannya. Anak yang terlihat percaya diri dalam keseharian belum tentu bisa memiliki tingkat kepercayaan diri yang sama saat menjalani hari pertama masuk sekolah.

Untuk itu perlu adanya pendampingan dari orangtua dan orang-orang terdekat untuk bisa meningkatkan rasa kepercayaan diri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ajak anak agar lebih terbuka dan menceritakan tentang segala hal yang terjadi selama di sekolah. Tanyakan apakah ada masalah yang dihadapi ? Bagaimana teman sebangkunya ? Bagaimana suasana kelasnya ? Dengan demikian Anda bisa memantau semua perkembangan anak.

Jadi, mari kita siapkan kebutuhan sekolah dengan baik dan antarkan anak di hari pertama mereka mulai sekolah !

Tags: #anak takut sekolah #hari pertama sekolah #keluarga #tips keluarga